Jumat, 26 Juni 2015

Oh Cikuray

Heey teman-teman sosmed...
Sudah pernah ada yang ke Gunung Cikuray, Jawa Barat?


Bulan Mei lalu, saya berkesempatan ke Gunung Cikuray bersama 3 teman kuliah. Total kami 4 berangkat dari Ciputat ke Garut menaiki bus Primajasa. Sekitar jam 2 tengah malam, kami sampai di terminal Guntur. DINGIN. Jangan sampai lupa bawa jaket. 
Setelah sarapan/sekedar menghangatkan tubuh dengan minuman hangat, kami langsung menyewa mobil losbak atau pick up untuk mengantarkan kami hingga ke Pemancar, pos awal pendakian gunung Cikuray. Setelah proses tawar menawar harga disepakati, kami siap untuk berangkat. Tentu setelah kouta mobil pick up terpenuhi yakni 12-15 orang sekali angkut. Hahaha

Pagi itu, terminal Guntur ramee. Rame dengan pemuda pemudi yang menggendong tas besar di pundaknya. Maklumlah yaa jadwal weekend emang begitu, dijadikan momentum untuk mendaki gunung. 

Sudah selesai semuanya, Let's Go, kita berangkaaat....
Untuk sampai ke Pemancar, diperlukan waktu satu jam (kata supir) dengan jalan menanjak, menanjak terus, terus menanjak hingga tiba di pemancar. Makanya terkadang ada kejadian mobil yang ga sanggup naik hingga ke pemancar. Yaa contohnya kaya mobil yang kami tumpangi ini -_- Untung ga kuat nanjaknya sebentar perjalanan lagi. Jadilah para lelaki yang duduk di belakang turun berniat mendorong mobil. Tapiiiiii ternyata setelah turun, mereka DITINGGALIN hahaha Untung saya perempuan bersama satu teman wanita yang duduk didepan bersama supir ga ikut turun dan ga ditinggal :p 

Sesampainya di Pemancar, pos awal Pendakian, kami istirahat sebentar sekaligus cek barang-barang, biar gaada yg terlupa dan tertinggal. Di Pemancar sudah rameee pendaki yang berniat menjajal mendaki seperti kami. Disana kami berkenalan dengan pendaki lain asal Jakarta juga. Nama salah satu dari ketiga orang itu Zaskia. 2 oran lainnya (laki-laki) lupa. *Maaf ya hehe. Akhirnya kami memutuskan naik sama-sama, barengan. Ketika matahari sudah mulai keluar dari singgasananya, kami bergegas untuk berangkaaaat.....


Sebelum melewati track kebun teh, kami diharuskan mengisi simaksi dan membayar tiket pendakian sebesar 10 ribu. setelah itu perjalanan seperti ini....

Track pertama melewati kebun teh, setelah proses Simaksi
Ketemu ini ketika sedang jalan di kebun teh
Teruuuus naik. Diatas nanti ketemu pos lagi untuk verifikasi data diri :p
Menuju pos 2 ada tanaman lavender. Lumayan warna tanaman lavender bikin semangat
Lihat akarnya keker banget kan ampe keluar begitu? Akar ini lumayan untuk pegangan naik
Pendakian dengkul ketemu dada. Sadissss

Sunrise Cikuray
Puncak Cikuray sebanding dengan perjalanan ekstrimnya. Tanpa editan.

  
Saking rame nya, jalur pendakian digunain untuk diriin tenda. #Menuju puncak.
Doa di puncak gunung tertinggi Garut, semoga terkabul, Aamiin

Intinya, Setiap perjalanan memberikan kesan tersendiri. 
terkhusus untuk pendakian gunung Cikuray, ini merupakan pendakian ter-eksrim yang pernah saya naiki. Selama perjalanan kami selalu memberikan sugest pada diri bahwa rasa capek, ingin menyerah merupakan sugest. Kita Mampu keluar dari Zona nyaman diri. 

"Bukan Gunung yang saya takhlukan. Tapi diri inilah yang saya takhlukan. Saya bisa keluar dari zona nyaman kehidupan." 

Sekian. Terima kasih. 
Salam Lestari

Arianne Sarah

Jumat, 17 April 2015

Mengubah Dunia melalui Ruang Baca

Akhirnyaaa kesampaian ke Gramed, setelah sekian lama ga kesana-sana. Ceritanya sehabis kuliah di hari kamis (16/04), ada kesempatan untuk jalan-jalan sejenak, setelah beberapa minggu dibulan ini padet ngurusin praktikum kuliah -_-

Singkat cerita, setibanya di Gramed. Aaakk!!! Banyak sekali buku dengan tema yang bagus-bagus. Turut bangga jadinya, semakin berkembang penulis buku Indonesia saat ini. Satu demi satu bermunculan penulis-penulis muda, handal dan berbakat yang baru saya kenali melalui karyanya ketika ke Gramed lalu.

Jujur saja, saya tidak terlalu fanatik dengan buku-buku non fiksi seperti novel, komik dan lain-lain. Saya lebih tertarik dengan buku-buku fiksi, biografi, dokumenter, travelling dan semacamnya. Sehingga yang saya dapat dari jalan-jalan sejenak itu adalah buku ini:



Saya belum menyelesaikan membaca buku ini secara tuntas, tetapi secara garis besar buku ini bercerita tentang:

"Mantan penjabat yang bernama John Wood yang dahulu bekerja di salah satu perusahaan terbesar di dunia, Aplikasinya digunakan di seluruh dunia yakni Microsoft, rela dan berani meninggalkan zona nyaman kehidupannya dengan membangun perpustakaan di berbagai belahan dunia melalui uang pribadinya demi melawan buta aksara. 
Singkat cerita, ia terketuk hatinya ketika pada suatu waktu berkesempatan berkunjung ke salah satu desa terpencil, dimana di desa tersebut ada satu sekolah yang minim sekali akan buku bacaan untuk siswanya. Maka, dari sanalah akhirnya ia memutuskan untuk mengabdi........"

Bayangkan apa yang terjadi jika ratusan orang mengikuti jejaknya? 
Jarang loh ada seseorang yang berani keluar dari zona nyaman kehidupannya. 

Finally, buku ini cocok dijadikan panduan, untuk pelajar/mahasiswa yang konsen di bidang Pengembangan Masyarakat seperti saya agar berani melangkah seperti halnya pak John, minimal di Tanah Air Tercinta, Indonesia dahulu. Semoga, doakan saja yaa ;) Aamiin.

Demikian, Salam Lestari.

Arianne Sarah





Buku Sokola Rimba


Niat awalnya ingin membeli buku kuliah di Gramedia, tapi baru masuk ke pintu Gramedia buku ini sudah menyihir saya  meminta untuk dihampiri. Hingga pada akhirnya buku kuliah ga ada satupun yang kebeli, tapi buku ini yang akhirnya dibawa pulang :)

Sepulang dari Gramedia, buku setebal 348 halaman ini kembali berhasil membuat saya betah duduk diam dikamar menyelesaikan ceritanya tiap lembar demi lembar.

Bisa dibilang, buku ini sukses membuat saya terlarut dalam alur cerita. Menjadi Orang Rimba. Saya bisa terharu, menangis, tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak pada saat yang bersamaan ketika membaca satu demi satu kisah yang dipaparkan secara lugas dan apa adanya ini.

Kak Butet Manurung sebagi pemeran utama dalam buku ini berhasil membawa saya berimajinasi berada di Jambi, Bukit 12. Seolah-olah saya berada disana merasakan semangat, kepedulian, dan pengorbanan kak Butet dalam memperkenalkan dan memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak Rimba agar tidak sering ditipu karena tidak bisa menulis dan membaca.
Terakhir, Satu kata untuk buku ini, KEREN!

Kamis, 05 Februari 2015

Titik Nol - Makna Perjalanan

" Setiap orang terobsesi akan kata jauh. Padahal makna dari kata tersebut dapat ditemukan dari perjalanan yang selama ini terabaikan." #TitikNol


Buku setebal 556 halaman ini fokus bercerita tentang perjalanan hidup sang penulis  - Agustinus Wibowo yang berkeliling dunia seorang diri selama 10 tahun, kemudian dikorelasikan dengan menggabungkan perjuangan sang Mama dalam menghadapi penyakit Kankernya.



Tibet - India - Nepal - Afganistan - Surga - Khailash - Shangri La 


Kesemua negara ini Agustinus Wibowo jelajahi demi mencari makna perjalanan itu sendiri. Bagi yang belum tahu Agustinus Wibowo, beliau adalah seorang penjelajah yang kemudian menuliskan pengalamannya selama diperjalanan dalam bentuk buku. Buku Titik Nol ini merupakan buku ketiga-nya. Dua buku sebelumnya adalah Selimut Debu dan Garis Batas. 

Mencari makna perjalanan ke beberapa negara, jauh dari rumah, seorang diri membuat Agustinus Wibowo akhirnya sadar bahwa dari Ibu-nya lah yang tidak pernah kemana-mana, ia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini ia abaikan. 


Hingga pada akhirnya, Buku ini membuat makna perjalanan terasa penuh perjuangan, pengharapan dan kekuatan juga berharga bahwa membaca buku Titik Nol dari bab demi bab seakan turut ikut menelusuri negeri yang mungkin tidak akan pernah saya pijak~



Sehingga, pelajaran yang dapat dipetik adalah  semua akan ada batas akhirnya. semua akan kembali ke Titik Nol~ Dan selama masih ada waktu yang diberikan oleh Sang Pemilik Alam Semesta, maka gunakan sebaik mungkin, nikmati selagi masih memilikinya, syukuri atas apa yang sudah diberikan dan buatlah kisah hidup menjadi bermakna hingga selesai jatah usiamu.
Terima kasih Agusinus ;) kisah  perjalananmu, perjuangan, pengharapan, kekuatan sungguh menginspirasi~




Salam Lestari

-Arianne Sarah-

Jelajah Baduy ;)

Hellow ;)


Saat ini, siapa sih yang ga pernah/pingin naik gunung? Booming-nya kegiatan outdoor ini disebabkan karena beberapa faktor. Akibatnya semuanya berbondong-bondong pingin naik gunung tanpa bekal pengetahuan dan peralatan yang safety. Disini, penulis hanya mau sampaikan bahwa 'Alam bukan hanya gunung saja' terlebih alam Indonesia. Terlalu sempit jika hanya pingin naik gunung.

So, ke Baduy boleh kok jadi referensi liburan kalian^^ Dapet ilmu soal budaya unik suku baduy, Pengalaman, memperluas silaturahim dan lain-lain. Untuk itu, jika benar mau mencicipi keindahan suku baduy siapkan beberapa kebutuhan berikut ini:

1.Waktu luang + Uang
Udah jelas lah yaa, kedua hal ini paling penting.

2. Tenaga (fit body)
Kenapa penulis bilang tenaga? Karena, untuk sampai ke baduy dalam, diperlukan usaha. Yaa kalo niatnya cuma ke baduy luar doang, ga seberapa hehe. Tapi biar puas mending main-main aja ke baduy dalem nya. Penulis aja ampe nginep semalem di Baduy dalem. Numpang tidur dirumah suku Baduy-nya ;) Tapiiii, untuk sampai ke Baduy dalem, kamu harus lewati ini semua. Semangat!!! ;))







3. Siapkan ruang (diotak) untuk mempelajari budaya Suku Baduy
Jelas dong! banyak-banyakin ngobrol sama orang baduy-nya. Sebagian ada yang sudah fasih bahasa Indonesia kok. Menurut penulis, Budaya baduy sungguh unik. Karena, mulai dari cara mendapatkan pasangan sampai meninggal dunia, ada keunikan tersendiri. Cara berpaiakan, kepemerintahan suku baduy, keyakinan beragama, mata pencaharian dan lain-lain.


Kita takkan tau sampai kapan budaya Baduy ini akan tetap bertahan ditengah gempuran budaya Barat. Tapi akan tetap bertahan apabila kita menjaga, melestarikan dan memberi dukungan dengan cara bersilaturahim ke Baduy, minimal mematuhi segala aturan yang ada dan membeli kerajinan tangan yang dibuat. 

Aturan yang ada disini maksudnya adalah Suku Baduy dalam melarang wisatawan membawa Kamera, Sabun mandi, pasta gigi, sampho, dan lain-lain yang dirasa mengandung zat kimia yang dapat merusak air sungai. Juga kamera karena suku Baduy dalam hidup tanpa barang-barang modern. semuanyaa tradisional. Keren kan?

So, ga tertarik sama jelajah budaya kaya gini?



Salam Lestari

Arianne Sarah

Sabtu, 06 September 2014

Gunung Prau via Patak Banteng

Hallo para rakyat...
Terima Kasih sudah berkenan berkunjung ke blog sederhana saya :p


Di minggu-minggu terakhir liburan kuliah, kami ber3 (Saya, Iqbal dan Ka Novi) akhirnya ngejalanin planning dadakan untuk naik gunung.
Ada yang tau nama Gunung ini? berapa tingginya? dan dimana Lokasinya?

Foto ini Asli tanpa editan :p
Gunung ini adanya di dataran tinggi Dieng, tepat di perbatasan Kendal dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tinggi gunung ini 2565 Mdpl. Dari puncak gunung ini, nantinya kita bisa liat beberapa gunung lainnya yang ada di Jawa Tengah. (Kalo beruntung ga berkabut tapinya :p) Makanya kalo mau kesini, ketika musim kemarau aja (April-September). Kenapa? Pendakian jauh lebih nyaman meskipun jalur pendakiannya lebih berdebu, ga licin karna hujan, dan yang terpenting bisa ngeliat pemandangannya.

Yap! Ini dia Puncak Gunung Prau.

Untuk sampai ke puncak gunung ini, kita harus melewati 3 buah pos terlebih dahulu dengan kisaran waktu normalnya kurang lebih 2 - 2,5 jam.

Minggu, 24 - 25 Agustus 2014
Berangkat hari minggu magrib dari Jakarta (Lebak Bulus) menaiki bus Dieng Indah menuju pertigaan Wonosobo, Jawa Tengah. Perjalanan itu kami tempuh kurang lebih 12 jam. Dari situ lanjut lagi naik angkot (warna kuning) ke alun-alun. Di alun-alun lanjut lagi naik mobil mikrobus menuju Dieng - Petak Banteng.

Sampai di basecamp kira-kira jam 9-an. Kami langsung mengurus surat izin mendaki, biaya perizinannya Rp. 4.000,- kemudian ganti pakaian lapangan dan membeli air. Setelah itu langsung caaaw....

Berdasarkan pengalaman salah jalan, kalo mau naik gunung Prau, harus lewat rumah warga dulu sedikit, ga jauh dari basecamp. Patokan gangnya depan toko outdoor avtech BUKAN lurus terus gatau mau kemana hahaha Kata orang sana sih, kalo lurus terus itu ke gunung Sikunir. Maklum lah yaa, pertama kali kesana haha :p

Setelah melewati rumah warga, langsung disambut puluhan tangga kemudian ladang milik warga. Setelah itu, kini saatnya jalanan bebatuan. Entah ini memang benar jalur yang biasa digunakan pendaki atau bukan saya kurang tau. Soalnya, selama perjalanan kami hanya bertemu dengan pendaki lain yang mau turun BUKAN naik. Soalnya (lagi), berdasarkan catper-catper yang kita baca, jalannya itu gaada bebatuan kaya gini. Aah sudahlah, biarkan ini menjadi rahasia Ilahi hahaha

Tanjakan bebatuan. Mayanlaah (Liat jalanannya jangan liat orangnya)

Sehabisnya jalanan bebatuan ini, itu dia Pos 1. Ada gubuk derita milik warga. Lanjut ke pos 2, jalannya ga bebatuan lagi. Sudah tanah, disamping kanan kirinya Ladang perkebunan warga yang amat sangat ramah. Disini, pemandangan sekitaran Petak Banteng keliatan dari atas. Indaaah banget.





Waktu kesana, ketika menuju pos 2 ada bangunan yang nantinya mau dijadikan warung. (Kata bapak dibangunan itu). Waaa makin enak aja ini mah haha ga sekalian dipuncak diri-in Sevel -_-
Sesampainya di pos 2, gaada shelter (bangunan). cuma lahan kosong dan papan plang bertuliskan pos 2
Langsung lanjut lagi ke pos 3, jalannya semakin nanjaaaak! hampir gaada jalan landai. Yuhuuuu! Puncak ga jauh lagi apabila sudah berhadapan dengan jalan yang diberi pegangan tali webbing. Tali ini berguna banget. terlebih ketika turun. soalnya, tanahnya gembur, ga terlalu kuat buat pijakan kaki. liciiiiin, mudah terpleset jika ga hati-hati. Makanya terima kasih banyak kepada pihak yang  berinisiatif memberikan tali di jalur tersebut :)

Perjalanan menuju pos 2



Liat akar-akar itu keluar, keker bangeeet

Pos 3 - Cacingan (Kenapa harus cacing?)

Kabut di puncak gunung Prau

Bunga Daisy (Lonte Sore) di puncak gunung Prau 

Yippiiiii! Akhirnya sampai puncak. 3 jam waktu perjalanan kami. ketika itu baru 2 tenda yang sudah berdiri. jika ditambah kami yang baru datang berarti 3 tenda. Alhamdulillah ga terlalu rame :p
Segera diriin tenda karna kabutnya ga nahaan, ga keliataan. Kabutnya labil. Setelah tenda berdiri, saatnya kita kuis kita jalan-jalaaan, foto-foto hehe Ini dia hasilnyaaa:

Saya - Ka Novi - Iqbal (Ketika berkabut)
Mendadak Ceraaah
Background nya gunung Sindoro di Puncak Gunung Prau - Sore hari

Ka Novi bersama bunga Daisy (Lonte Sore) yg imut-imut, banyaaak bgt di puncak 
Hello Gunung Sindoro dan  Sumbing yang gagah ;) - Pagi hari
Ketika Sunset, tanpa editaaan! 

Malam harinyaa, satu per satu pendaki lain bermunculan baru sampai puncak. saya kira mah cukup 3 tenda saja -_-  Ternyataa wakwaw banget haha Rameeeeee! Tapi tetep asik kok, baik-baik dan ramah ;)

Kesimpulannyaa, gunung Prau ini Recommended banget untuk di singgahi. Bawa persediaan air yg banyak (karna tidak ada sumber air), pakaian hangat (karna sangat dingin), dan tanamkan dalam diri 3P (Pergi-Puncak-Pulang) :p

Oiya satu lagi. Ketika pulang, kami sempetin makan makanan khas Wonosobo terlebih dahulu. MIE ONGKLOK namanya. Tempatnya di pinggir jalan, jadi mayan mudahlah nyarinya. Denger-denger, kenapa makanan ini dikasih nama mie ongklok, karena kata "ongklok" itu artinya keranjang kecil yg terbuat dari bambu yang digunakan untuk merebus mie-nya. Jadiii, mie-nya itu dicelupkan ke dalam air yang mendidih dengan menggunakan ongklok. Hahaha Lucu ya :p  Penasaran dgn mie Ongklok? Dateng ke Wonosobo, cobain sendiri hehehe

Estimasi Biaya:
24-26 Agustus 2014
Berangkat:
1. Bus Dieng Indah Lebak Bulus - Wonosobo (Rp.105.000,-)
2. Angkot Kuning ke Alun-alun (Rp. 2.500,-)
3. Mobil Mikrobus ke Petak Banteng (Rp. 10.000,-)
4. Tiket Pendakian Gn,Prau (Rp. 4.000,-)
Pulang:
1. Mobil Mikrobus ke RM. Mie Ongklok (Rp.10.000,-)
2. Angkot Kuning ke Terminal Mendolo (Rp. 2.500,-)
3. Bus Sinar Jaya ke Lebak Bulus (Rp. 97.000,-)

Lain-lain:
1. Logistik (Rp. 170.000,-) Masih sisa banyaaak
2. 2 Stiker Gn. Prau (Rp. 5.000,-)
3. Carica 1 Kardus (Rp. 35.000) Isi 12
4. Mie Ongklok makanan khas disana (Rp. 16.500,-)

Akhir kata Terima kasih untuk:
1. Allah Swt yang me-Ridhoi perjalanan kami
2. Orangtua yang mau direpotkan atas hobi kami
3. Iqbal dan ka Novi yang menjadi teman perjalanan yg menyenangkan
4. Ibu di Petak Banteng yg memberi tau jalur pendakian Gn. Prau
5. Mas Misyadi yang baik hati mau menampung kami untuk numpang mandi
6. Abang supir (dari Jakarta-Dieng) yang membawa kami dgn selamat
7. Teman-teman yg mendukung perjalanan kami, yg tidak bisa disebutkan satu persatu.



Salam Lestari
-Arianne Sarah-

Selasa, 12 Agustus 2014

Really, it's me :)

"Saya ingin seperti yang Allah inginkan, bukan seperti yang orang lain inginkan" 
-Arianne Sarah-


Kini kalimat itu yang membimbing saya untuk selalu melibatkan Allah disetiap perjalanan hidup saya. Karena wanita mana yang tidak ingin diberi julukan wanita sholeha? Wanita mana yang tidak ingin menikah, memiliki suami shaleh serta anak-anak yang pintar dalam bimbingan dan keridhoan Allah? Saya rasa semua wanita muslimah menginginkan itu :)

Saat ini, banyak teman-teman sekolah saya merasa kaget akan perubahan pola pikir dan penampilan diri saya. Berakar dari keresahan itu, niih saya kasih tau mengapa saya seperti saat ini. Biar ga pada kaget lagi dan nanya-nanya lagi :) :p 

Dulu saya tidak berhijab, tomboy, tidak banyak menyelipkan nama Allah dalam ucapan (status, tweet, pm), tidak penurut, dan tidak yang baik-baik lainnya. Sikap seperti itu, terjadi kurang lebih selama mengenyam pendidikan formal 12 tahun (SD-SMP-SMA). Jadi bayangkan saja sudah berapa banyak dosa yang saya buahi dan berapa lama saya berteman dengan setan ketika masa-masa itu. 

Pengalaman adalah guru terbaik. Istilah itu sepertinya cocok untuk saya saat ini. Pengalaman buruk dimasa sekolah dulu menjadi guru terbaik untuk kehidupan saya saat ini. Menjadi guru terbaik agar kini tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat semasa sekolah. Mengapa saya katakan kini? Karena justru ketika masa-masa itu sudah terlewatkan, kita baru menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Padahal ketika masa-masa itu terjadi, tidak ada tuh pikiran seperti itu. Malah kita menganggapnya bahwa itu benar-benar saja. Bener apa bener? hehe

Yaudahlah yaaa..saya bukan wanita yang hebat yang bisa mengembalikan waktu. Jadii jalani saja sisa hidup, usia yang masih Allah berikan untuk kembali kepadaNya dan sesuai jalurNya. Caranya? 


"Saya ingin seperti yang Allah inginkan, bukan seperti yang orang lain inginkan"

Setamatnya dari bangku SMA, saya diterima di Universitas Islam di Jakarta. Sepertinya berawal dari situ pikiran saya terbuka bebas. Memang Allah sangat baik, menggiring saya untuk kembali ke jalurNya dengan cara yang baik, lembut dan indah. 

Di kehidupan perkuliahan inilah saya banyak belajar memperdalam Islam, memperdalam bagaimana menjadi muslimah, dan tak lupa mempelajari buku-buku tentang pemberdaya karna itu jurusan kuliah yang saya ambil hehe Memang benar, untuk berubah menjadi lebih baik faktor lingkungan menjadi sangat penting. Jadi inget kata-kata ayah saya dulu ketika masih sekolah:


"Meskipun kamu ga melihara babi tapi kamu main sama orang yang melihara hewan tersebut tetap aja kamu kecipratan bau babinya atau lumpurnya" 

Artinya pilih-pilih temen ketika bergaul. Pilih-pilih Universitas sebelum masuk. Itu penting, supaya kecipratan hal-hal baik darinya. Bukannya memanfaatkan tapi pada akhirnya keduanya akan saling bersinergi.Pendapat Subjektif nih ya. Ini juga salah satu alasannya kenapa saya sulit diajak main sama teman-teman SMA khususnya. Sulit menyatukan sinergi kalian dengan saya saat ini (yang sudah berhijab). Kalian mengolok-olok saya atas perubahan diri saya saat ini. Padahal siapa yang tau baik kalian atau saya yang lebih baik? Kalian menertawai penampilan saya kini, saya pun juga begitu. Menertawai kalian yang masih gitu-gitu saja. Padahal diantara kita tidak ada yang tau kapan Allah memanggil? Kalian menganggap saya sok alim dengan hijab di kepala saya padahal ini merupakan perintah wajib Allah bagi wanita muslimah. Duh kok jadi sensi. Hmm...sudahlah -_-

Untung saja Allah menggiring saya ke lingkungan Universitas Islam sehingga saya kecipratan baikknya. Tapi bukan berarti Universitas tanpa label Islam ga baik loh ya jangan salah kira hehe 

Sudahlah, saya sudahi saja. Menulis ini memacu adrenalin saya. Akhir kata Doakan agar saya istiqamah ya ;)

"Tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada siapapun karena yang menyukaimu tidak membutuhkannya dan yang membencimu tidak akan mempercayainya. (Ali bin Abi Thalib)"


@ArianneSarah