Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2015

Oh Cikuray

Heey teman-teman sosmed...
Sudah pernah ada yang ke Gunung Cikuray, Jawa Barat?


Bulan Mei lalu, saya berkesempatan ke Gunung Cikuray bersama 3 teman kuliah. Total kami 4 berangkat dari Ciputat ke Garut menaiki bus Primajasa. Sekitar jam 2 tengah malam, kami sampai di terminal Guntur. DINGIN. Jangan sampai lupa bawa jaket. 
Setelah sarapan/sekedar menghangatkan tubuh dengan minuman hangat, kami langsung menyewa mobil losbak atau pick up untuk mengantarkan kami hingga ke Pemancar, pos awal pendakian gunung Cikuray. Setelah proses tawar menawar harga disepakati, kami siap untuk berangkat. Tentu setelah kouta mobil pick up terpenuhi yakni 12-15 orang sekali angkut. Hahaha

Pagi itu, terminal Guntur ramee. Rame dengan pemuda pemudi yang menggendong tas besar di pundaknya. Maklumlah yaa jadwal weekend emang begitu, dijadikan momentum untuk mendaki gunung. 

Sudah selesai semuanya, Let's Go, kita berangkaaat....
Untuk sampai ke Pemancar, diperlukan waktu satu jam (kata supir) dengan jalan menanjak, menanjak terus, terus menanjak hingga tiba di pemancar. Makanya terkadang ada kejadian mobil yang ga sanggup naik hingga ke pemancar. Yaa contohnya kaya mobil yang kami tumpangi ini -_- Untung ga kuat nanjaknya sebentar perjalanan lagi. Jadilah para lelaki yang duduk di belakang turun berniat mendorong mobil. Tapiiiiii ternyata setelah turun, mereka DITINGGALIN hahaha Untung saya perempuan bersama satu teman wanita yang duduk didepan bersama supir ga ikut turun dan ga ditinggal :p 

Sesampainya di Pemancar, pos awal Pendakian, kami istirahat sebentar sekaligus cek barang-barang, biar gaada yg terlupa dan tertinggal. Di Pemancar sudah rameee pendaki yang berniat menjajal mendaki seperti kami. Disana kami berkenalan dengan pendaki lain asal Jakarta juga. Nama salah satu dari ketiga orang itu Zaskia. 2 oran lainnya (laki-laki) lupa. *Maaf ya hehe. Akhirnya kami memutuskan naik sama-sama, barengan. Ketika matahari sudah mulai keluar dari singgasananya, kami bergegas untuk berangkaaaat.....


Sebelum melewati track kebun teh, kami diharuskan mengisi simaksi dan membayar tiket pendakian sebesar 10 ribu. setelah itu perjalanan seperti ini....

Track pertama melewati kebun teh, setelah proses Simaksi
Ketemu ini ketika sedang jalan di kebun teh
Teruuuus naik. Diatas nanti ketemu pos lagi untuk verifikasi data diri :p
Menuju pos 2 ada tanaman lavender. Lumayan warna tanaman lavender bikin semangat
Lihat akarnya keker banget kan ampe keluar begitu? Akar ini lumayan untuk pegangan naik
Pendakian dengkul ketemu dada. Sadissss

Sunrise Cikuray
Puncak Cikuray sebanding dengan perjalanan ekstrimnya. Tanpa editan.

  
Saking rame nya, jalur pendakian digunain untuk diriin tenda. #Menuju puncak.
Doa di puncak gunung tertinggi Garut, semoga terkabul, Aamiin

Intinya, Setiap perjalanan memberikan kesan tersendiri. 
terkhusus untuk pendakian gunung Cikuray, ini merupakan pendakian ter-eksrim yang pernah saya naiki. Selama perjalanan kami selalu memberikan sugest pada diri bahwa rasa capek, ingin menyerah merupakan sugest. Kita Mampu keluar dari Zona nyaman diri. 

"Bukan Gunung yang saya takhlukan. Tapi diri inilah yang saya takhlukan. Saya bisa keluar dari zona nyaman kehidupan." 

Sekian. Terima kasih. 
Salam Lestari

Arianne Sarah

Kamis, 05 Februari 2015

Titik Nol - Makna Perjalanan

" Setiap orang terobsesi akan kata jauh. Padahal makna dari kata tersebut dapat ditemukan dari perjalanan yang selama ini terabaikan." #TitikNol


Buku setebal 556 halaman ini fokus bercerita tentang perjalanan hidup sang penulis  - Agustinus Wibowo yang berkeliling dunia seorang diri selama 10 tahun, kemudian dikorelasikan dengan menggabungkan perjuangan sang Mama dalam menghadapi penyakit Kankernya.



Tibet - India - Nepal - Afganistan - Surga - Khailash - Shangri La 


Kesemua negara ini Agustinus Wibowo jelajahi demi mencari makna perjalanan itu sendiri. Bagi yang belum tahu Agustinus Wibowo, beliau adalah seorang penjelajah yang kemudian menuliskan pengalamannya selama diperjalanan dalam bentuk buku. Buku Titik Nol ini merupakan buku ketiga-nya. Dua buku sebelumnya adalah Selimut Debu dan Garis Batas. 

Mencari makna perjalanan ke beberapa negara, jauh dari rumah, seorang diri membuat Agustinus Wibowo akhirnya sadar bahwa dari Ibu-nya lah yang tidak pernah kemana-mana, ia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini ia abaikan. 


Hingga pada akhirnya, Buku ini membuat makna perjalanan terasa penuh perjuangan, pengharapan dan kekuatan juga berharga bahwa membaca buku Titik Nol dari bab demi bab seakan turut ikut menelusuri negeri yang mungkin tidak akan pernah saya pijak~



Sehingga, pelajaran yang dapat dipetik adalah  semua akan ada batas akhirnya. semua akan kembali ke Titik Nol~ Dan selama masih ada waktu yang diberikan oleh Sang Pemilik Alam Semesta, maka gunakan sebaik mungkin, nikmati selagi masih memilikinya, syukuri atas apa yang sudah diberikan dan buatlah kisah hidup menjadi bermakna hingga selesai jatah usiamu.
Terima kasih Agusinus ;) kisah  perjalananmu, perjuangan, pengharapan, kekuatan sungguh menginspirasi~




Salam Lestari

-Arianne Sarah-

Jelajah Baduy ;)

Hellow ;)


Saat ini, siapa sih yang ga pernah/pingin naik gunung? Booming-nya kegiatan outdoor ini disebabkan karena beberapa faktor. Akibatnya semuanya berbondong-bondong pingin naik gunung tanpa bekal pengetahuan dan peralatan yang safety. Disini, penulis hanya mau sampaikan bahwa 'Alam bukan hanya gunung saja' terlebih alam Indonesia. Terlalu sempit jika hanya pingin naik gunung.

So, ke Baduy boleh kok jadi referensi liburan kalian^^ Dapet ilmu soal budaya unik suku baduy, Pengalaman, memperluas silaturahim dan lain-lain. Untuk itu, jika benar mau mencicipi keindahan suku baduy siapkan beberapa kebutuhan berikut ini:

1.Waktu luang + Uang
Udah jelas lah yaa, kedua hal ini paling penting.

2. Tenaga (fit body)
Kenapa penulis bilang tenaga? Karena, untuk sampai ke baduy dalam, diperlukan usaha. Yaa kalo niatnya cuma ke baduy luar doang, ga seberapa hehe. Tapi biar puas mending main-main aja ke baduy dalem nya. Penulis aja ampe nginep semalem di Baduy dalem. Numpang tidur dirumah suku Baduy-nya ;) Tapiiii, untuk sampai ke Baduy dalem, kamu harus lewati ini semua. Semangat!!! ;))







3. Siapkan ruang (diotak) untuk mempelajari budaya Suku Baduy
Jelas dong! banyak-banyakin ngobrol sama orang baduy-nya. Sebagian ada yang sudah fasih bahasa Indonesia kok. Menurut penulis, Budaya baduy sungguh unik. Karena, mulai dari cara mendapatkan pasangan sampai meninggal dunia, ada keunikan tersendiri. Cara berpaiakan, kepemerintahan suku baduy, keyakinan beragama, mata pencaharian dan lain-lain.


Kita takkan tau sampai kapan budaya Baduy ini akan tetap bertahan ditengah gempuran budaya Barat. Tapi akan tetap bertahan apabila kita menjaga, melestarikan dan memberi dukungan dengan cara bersilaturahim ke Baduy, minimal mematuhi segala aturan yang ada dan membeli kerajinan tangan yang dibuat. 

Aturan yang ada disini maksudnya adalah Suku Baduy dalam melarang wisatawan membawa Kamera, Sabun mandi, pasta gigi, sampho, dan lain-lain yang dirasa mengandung zat kimia yang dapat merusak air sungai. Juga kamera karena suku Baduy dalam hidup tanpa barang-barang modern. semuanyaa tradisional. Keren kan?

So, ga tertarik sama jelajah budaya kaya gini?



Salam Lestari

Arianne Sarah