Sabtu, 06 September 2014

Gunung Prau via Patak Banteng

Hallo para rakyat...
Terima Kasih sudah berkenan berkunjung ke blog sederhana saya :p


Di minggu-minggu terakhir liburan kuliah, kami ber3 (Saya, Iqbal dan Ka Novi) akhirnya ngejalanin planning dadakan untuk naik gunung.
Ada yang tau nama Gunung ini? berapa tingginya? dan dimana Lokasinya?

Foto ini Asli tanpa editan :p
Gunung ini adanya di dataran tinggi Dieng, tepat di perbatasan Kendal dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tinggi gunung ini 2565 Mdpl. Dari puncak gunung ini, nantinya kita bisa liat beberapa gunung lainnya yang ada di Jawa Tengah. (Kalo beruntung ga berkabut tapinya :p) Makanya kalo mau kesini, ketika musim kemarau aja (April-September). Kenapa? Pendakian jauh lebih nyaman meskipun jalur pendakiannya lebih berdebu, ga licin karna hujan, dan yang terpenting bisa ngeliat pemandangannya.

Yap! Ini dia Puncak Gunung Prau.

Untuk sampai ke puncak gunung ini, kita harus melewati 3 buah pos terlebih dahulu dengan kisaran waktu normalnya kurang lebih 2 - 2,5 jam.

Minggu, 24 - 25 Agustus 2014
Berangkat hari minggu magrib dari Jakarta (Lebak Bulus) menaiki bus Dieng Indah menuju pertigaan Wonosobo, Jawa Tengah. Perjalanan itu kami tempuh kurang lebih 12 jam. Dari situ lanjut lagi naik angkot (warna kuning) ke alun-alun. Di alun-alun lanjut lagi naik mobil mikrobus menuju Dieng - Petak Banteng.

Sampai di basecamp kira-kira jam 9-an. Kami langsung mengurus surat izin mendaki, biaya perizinannya Rp. 4.000,- kemudian ganti pakaian lapangan dan membeli air. Setelah itu langsung caaaw....

Berdasarkan pengalaman salah jalan, kalo mau naik gunung Prau, harus lewat rumah warga dulu sedikit, ga jauh dari basecamp. Patokan gangnya depan toko outdoor avtech BUKAN lurus terus gatau mau kemana hahaha Kata orang sana sih, kalo lurus terus itu ke gunung Sikunir. Maklum lah yaa, pertama kali kesana haha :p

Setelah melewati rumah warga, langsung disambut puluhan tangga kemudian ladang milik warga. Setelah itu, kini saatnya jalanan bebatuan. Entah ini memang benar jalur yang biasa digunakan pendaki atau bukan saya kurang tau. Soalnya, selama perjalanan kami hanya bertemu dengan pendaki lain yang mau turun BUKAN naik. Soalnya (lagi), berdasarkan catper-catper yang kita baca, jalannya itu gaada bebatuan kaya gini. Aah sudahlah, biarkan ini menjadi rahasia Ilahi hahaha

Tanjakan bebatuan. Mayanlaah (Liat jalanannya jangan liat orangnya)

Sehabisnya jalanan bebatuan ini, itu dia Pos 1. Ada gubuk derita milik warga. Lanjut ke pos 2, jalannya ga bebatuan lagi. Sudah tanah, disamping kanan kirinya Ladang perkebunan warga yang amat sangat ramah. Disini, pemandangan sekitaran Petak Banteng keliatan dari atas. Indaaah banget.





Waktu kesana, ketika menuju pos 2 ada bangunan yang nantinya mau dijadikan warung. (Kata bapak dibangunan itu). Waaa makin enak aja ini mah haha ga sekalian dipuncak diri-in Sevel -_-
Sesampainya di pos 2, gaada shelter (bangunan). cuma lahan kosong dan papan plang bertuliskan pos 2
Langsung lanjut lagi ke pos 3, jalannya semakin nanjaaaak! hampir gaada jalan landai. Yuhuuuu! Puncak ga jauh lagi apabila sudah berhadapan dengan jalan yang diberi pegangan tali webbing. Tali ini berguna banget. terlebih ketika turun. soalnya, tanahnya gembur, ga terlalu kuat buat pijakan kaki. liciiiiin, mudah terpleset jika ga hati-hati. Makanya terima kasih banyak kepada pihak yang  berinisiatif memberikan tali di jalur tersebut :)

Perjalanan menuju pos 2



Liat akar-akar itu keluar, keker bangeeet

Pos 3 - Cacingan (Kenapa harus cacing?)

Kabut di puncak gunung Prau

Bunga Daisy (Lonte Sore) di puncak gunung Prau 

Yippiiiii! Akhirnya sampai puncak. 3 jam waktu perjalanan kami. ketika itu baru 2 tenda yang sudah berdiri. jika ditambah kami yang baru datang berarti 3 tenda. Alhamdulillah ga terlalu rame :p
Segera diriin tenda karna kabutnya ga nahaan, ga keliataan. Kabutnya labil. Setelah tenda berdiri, saatnya kita kuis kita jalan-jalaaan, foto-foto hehe Ini dia hasilnyaaa:

Saya - Ka Novi - Iqbal (Ketika berkabut)
Mendadak Ceraaah
Background nya gunung Sindoro di Puncak Gunung Prau - Sore hari

Ka Novi bersama bunga Daisy (Lonte Sore) yg imut-imut, banyaaak bgt di puncak 
Hello Gunung Sindoro dan  Sumbing yang gagah ;) - Pagi hari
Ketika Sunset, tanpa editaaan! 

Malam harinyaa, satu per satu pendaki lain bermunculan baru sampai puncak. saya kira mah cukup 3 tenda saja -_-  Ternyataa wakwaw banget haha Rameeeeee! Tapi tetep asik kok, baik-baik dan ramah ;)

Kesimpulannyaa, gunung Prau ini Recommended banget untuk di singgahi. Bawa persediaan air yg banyak (karna tidak ada sumber air), pakaian hangat (karna sangat dingin), dan tanamkan dalam diri 3P (Pergi-Puncak-Pulang) :p

Oiya satu lagi. Ketika pulang, kami sempetin makan makanan khas Wonosobo terlebih dahulu. MIE ONGKLOK namanya. Tempatnya di pinggir jalan, jadi mayan mudahlah nyarinya. Denger-denger, kenapa makanan ini dikasih nama mie ongklok, karena kata "ongklok" itu artinya keranjang kecil yg terbuat dari bambu yang digunakan untuk merebus mie-nya. Jadiii, mie-nya itu dicelupkan ke dalam air yang mendidih dengan menggunakan ongklok. Hahaha Lucu ya :p  Penasaran dgn mie Ongklok? Dateng ke Wonosobo, cobain sendiri hehehe

Estimasi Biaya:
24-26 Agustus 2014
Berangkat:
1. Bus Dieng Indah Lebak Bulus - Wonosobo (Rp.105.000,-)
2. Angkot Kuning ke Alun-alun (Rp. 2.500,-)
3. Mobil Mikrobus ke Petak Banteng (Rp. 10.000,-)
4. Tiket Pendakian Gn,Prau (Rp. 4.000,-)
Pulang:
1. Mobil Mikrobus ke RM. Mie Ongklok (Rp.10.000,-)
2. Angkot Kuning ke Terminal Mendolo (Rp. 2.500,-)
3. Bus Sinar Jaya ke Lebak Bulus (Rp. 97.000,-)

Lain-lain:
1. Logistik (Rp. 170.000,-) Masih sisa banyaaak
2. 2 Stiker Gn. Prau (Rp. 5.000,-)
3. Carica 1 Kardus (Rp. 35.000) Isi 12
4. Mie Ongklok makanan khas disana (Rp. 16.500,-)

Akhir kata Terima kasih untuk:
1. Allah Swt yang me-Ridhoi perjalanan kami
2. Orangtua yang mau direpotkan atas hobi kami
3. Iqbal dan ka Novi yang menjadi teman perjalanan yg menyenangkan
4. Ibu di Petak Banteng yg memberi tau jalur pendakian Gn. Prau
5. Mas Misyadi yang baik hati mau menampung kami untuk numpang mandi
6. Abang supir (dari Jakarta-Dieng) yang membawa kami dgn selamat
7. Teman-teman yg mendukung perjalanan kami, yg tidak bisa disebutkan satu persatu.



Salam Lestari
-Arianne Sarah-

Selasa, 12 Agustus 2014

Really, it's me :)

"Saya ingin seperti yang Allah inginkan, bukan seperti yang orang lain inginkan" 
-Arianne Sarah-


Kini kalimat itu yang membimbing saya untuk selalu melibatkan Allah disetiap perjalanan hidup saya. Karena wanita mana yang tidak ingin diberi julukan wanita sholeha? Wanita mana yang tidak ingin menikah, memiliki suami shaleh serta anak-anak yang pintar dalam bimbingan dan keridhoan Allah? Saya rasa semua wanita muslimah menginginkan itu :)

Saat ini, banyak teman-teman sekolah saya merasa kaget akan perubahan pola pikir dan penampilan diri saya. Berakar dari keresahan itu, niih saya kasih tau mengapa saya seperti saat ini. Biar ga pada kaget lagi dan nanya-nanya lagi :) :p 

Dulu saya tidak berhijab, tomboy, tidak banyak menyelipkan nama Allah dalam ucapan (status, tweet, pm), tidak penurut, dan tidak yang baik-baik lainnya. Sikap seperti itu, terjadi kurang lebih selama mengenyam pendidikan formal 12 tahun (SD-SMP-SMA). Jadi bayangkan saja sudah berapa banyak dosa yang saya buahi dan berapa lama saya berteman dengan setan ketika masa-masa itu. 

Pengalaman adalah guru terbaik. Istilah itu sepertinya cocok untuk saya saat ini. Pengalaman buruk dimasa sekolah dulu menjadi guru terbaik untuk kehidupan saya saat ini. Menjadi guru terbaik agar kini tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat semasa sekolah. Mengapa saya katakan kini? Karena justru ketika masa-masa itu sudah terlewatkan, kita baru menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Padahal ketika masa-masa itu terjadi, tidak ada tuh pikiran seperti itu. Malah kita menganggapnya bahwa itu benar-benar saja. Bener apa bener? hehe

Yaudahlah yaaa..saya bukan wanita yang hebat yang bisa mengembalikan waktu. Jadii jalani saja sisa hidup, usia yang masih Allah berikan untuk kembali kepadaNya dan sesuai jalurNya. Caranya? 


"Saya ingin seperti yang Allah inginkan, bukan seperti yang orang lain inginkan"

Setamatnya dari bangku SMA, saya diterima di Universitas Islam di Jakarta. Sepertinya berawal dari situ pikiran saya terbuka bebas. Memang Allah sangat baik, menggiring saya untuk kembali ke jalurNya dengan cara yang baik, lembut dan indah. 

Di kehidupan perkuliahan inilah saya banyak belajar memperdalam Islam, memperdalam bagaimana menjadi muslimah, dan tak lupa mempelajari buku-buku tentang pemberdaya karna itu jurusan kuliah yang saya ambil hehe Memang benar, untuk berubah menjadi lebih baik faktor lingkungan menjadi sangat penting. Jadi inget kata-kata ayah saya dulu ketika masih sekolah:


"Meskipun kamu ga melihara babi tapi kamu main sama orang yang melihara hewan tersebut tetap aja kamu kecipratan bau babinya atau lumpurnya" 

Artinya pilih-pilih temen ketika bergaul. Pilih-pilih Universitas sebelum masuk. Itu penting, supaya kecipratan hal-hal baik darinya. Bukannya memanfaatkan tapi pada akhirnya keduanya akan saling bersinergi.Pendapat Subjektif nih ya. Ini juga salah satu alasannya kenapa saya sulit diajak main sama teman-teman SMA khususnya. Sulit menyatukan sinergi kalian dengan saya saat ini (yang sudah berhijab). Kalian mengolok-olok saya atas perubahan diri saya saat ini. Padahal siapa yang tau baik kalian atau saya yang lebih baik? Kalian menertawai penampilan saya kini, saya pun juga begitu. Menertawai kalian yang masih gitu-gitu saja. Padahal diantara kita tidak ada yang tau kapan Allah memanggil? Kalian menganggap saya sok alim dengan hijab di kepala saya padahal ini merupakan perintah wajib Allah bagi wanita muslimah. Duh kok jadi sensi. Hmm...sudahlah -_-

Untung saja Allah menggiring saya ke lingkungan Universitas Islam sehingga saya kecipratan baikknya. Tapi bukan berarti Universitas tanpa label Islam ga baik loh ya jangan salah kira hehe 

Sudahlah, saya sudahi saja. Menulis ini memacu adrenalin saya. Akhir kata Doakan agar saya istiqamah ya ;)

"Tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada siapapun karena yang menyukaimu tidak membutuhkannya dan yang membencimu tidak akan mempercayainya. (Ali bin Abi Thalib)"


@ArianneSarah

Kamis, 13 Maret 2014

Setting Aplikasi Android untuk Remote Slide Presentasi

Selama menjadi mahasiswa, takkan pernah luput dari kata Presentasi. Menggunakan laptop saat presentasi, otomatis harus selalu "mengontrol" laptop untuk menjalankan slide-nya. Dari kesulitan ini, timbul kemudahan. Ada aplikasi Android yang bisa mengontrol slide presentasi pada laptop dengan bermodalkan jaringan Wifi. Aplikasi itu bernama: "PowerPoint OpenOffice Remote atau Remote PPT ODP".

Alat yang dibutuhkan:

1. Handphone Android
2. Laptop yang memiliki jaringan WIFI

Untuk dapat menggunkan aplikasi remote ini, tentu saja harus memasang aplikasi tersebut di HP Android dan juga di Desktop/ PC. Aplikasi desktop itulah yang akan digunakan untuk menjalin koneksi antara HP dengan PC. Koneksi yang dilakukan adalah via Wi-fi. Sebelumnya, Hp Android itu perlu kita set agar menjadi portable Wi-Fi hotspot sehingga keberadaan HP terbaca oleh PC. 


Jadi cara 1: Memasang aplikasi Remote PPT ODP di HP dan di PC. Ini Link download-nya: http://www.android-powerpoint.com/powerpoint/ 


Berhubung file ini berekstensi .jar maka laptop kamu harus terinstal java terlebih dahulu agar bisa menjalankannya. 



Hasil Download

Cara ke2:  Hidupkan Hotspot WIFI Portable di HP Android kamu kemudian sambungkan Wifi Android ke Laptop
Cukup ceklis Portable Wifi untuk menghidupkan

Cara ke3: Buka Apliksi Remote PPT ODP di PC yang sudah kamu download melalui Java




Hasilnya akan muncul seperti ini

Cara ke4: Lihat IP Address yang tampil di Android (Di aplikasi Remote PPT ODP - Connect to PC), kemudian masukkan ke Insert IP Manually di PC. Setelah itu, klik open file untuk memilih powerpoint yang akan digunakan.

IP Address di HP Saya

Setelah selesai memilih power point yang kita inginkan, maka secara otomatis akan terbuka power point-nya. Kemudian pada power point yang sudah terbuka, klik Slide Show atau F5 agar ketika proses loading semua data bisa terlihat. 

Cara ke5: Klik Load Presentation di HP Android untuk memproses penyambungan antara HP dengan PC. Tunggu beberapa menit tergantung banyaknya jumlah slide. Jika proses sudah selesai klik Start Presentation. Maka, hasilnya akan seperti dibawah ini

Dan ini hasilnyaa ;)


Untuk mengganti slide, cukup dengan touch atau menyentuh slide yang kamu inginkan di HP Android. Selamat Mencoba. Semoga Bermanfaat ;)

Jumat, 07 Maret 2014

REKOMENDASI: Belajar Perkalian dengan Cepat

Modernisasi. Yaa modernisasi telah membawa dampak bagi masyarakat saat ini. Salah satu dampak hebatnya adalah kian pesatnya perkembangan teknologi. 

Teknologi menjadi sarana yang menyediakan barang-barang atau informasi yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia. Contoh simple-nya Handphone.

Handphone saat ini menjadi amat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Sehingga pertanyaannya sekarang, siapa yang tak punya teknologi tersebut? Tidak ada! Rata-rata memiliki. Yakaan? Di Handphone, semua aplikasi bisa kita dapatkan. Bahkan dengan alasan memudahkan pengguna, kalkulator pun sampai tersedia. Padahal, justru sebaliknya. itu menjadi ancaman serius.

Adanya kalkulator di handphone, lebih banyak dampak negatifnya. Coba renungkan, lebih banyak menggunakan kalkulator atau menghitung sendiri? Dan pasti lebih cepat putus asa kan ketika menghitung tanpa kalkulator? Itu tuh hasil dari selalu mengandalkan kalkulator ehehe :p

Makanya disini saya ingin sharing, cara menghitung perkalian dengan cara yang baru. Pastinya Tanpa kalkulator dan lebih cepat apabila kamu sudah hapal rumusnya. Niiiih coba dipelajari. Jangan putus asa ya! Dicoba terus dengan soal-soal yang berbeda, agar terbiasa ;)

Minggu, 08 Desember 2013

Makalah Tafsir: Wawasan Al-Quran tentang Pemberdayaan Pengemis

Wawasan Al-Quran tentang Pemberdayaan Pengemis
Oleh:
Arianne Sarah

A. Latar Belakang
            Semenjak krisis ekonomi melanda bagian wilayah Asia pada akhir tahun 1990, membuat Indonesia sebagai salah satu warga Asia mengalami berbagai masalah di bidang ekonomi. Bahkan Indonesia menjadi negara yang paling lambat melakukan pemulihan ekonomi dari negara Asia lainnya. Dampak dari krisis tersebut masih terasa dan terlihat sampai sekarang. Sehingga fenomena kemiskinan, kemelaratan, pengangguran, kejahatan sosial dan segala macam bentuk pelanggaran aturan hukum menjadi makanan sehari-hari di media massa.[1] Padahal salah satu fungsi pembangunan suatu negara adalah menciptakan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan bagi seluruh warganya dari masyarakat miskin sampai masyarakat kaya sekalipun, baik laki-laki maupun perempuan, dari anak-anak hingga orang dewasa, berkulit putih maupun berkulit hitam dan lain sebaginya.
            Kemiskinan menjadi musuh terbesar semua negara yang ada di bumi ini. Bahkan negara besarpun tak luput dihantui oleh problem yang mendominasi negara kecil dan sedang berkembang. Kemiskinan adalah fenomena yang begitu mudah dijumpai di mana-mana. Tak hanya di desa-desa, tapi juga di kota-kota. Di balik kemegahan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, misalnya, tidak terlalu sulit kita jumpai rumah-rumah kumuh berderet di bantaran sungai, atau para pengemis yang berkeliaran di perempatan-perempatan jalan. Harus diakui, Kapitalisme memang telah gagal menyelesaikan problem kemiskinan. Alih-alih dapat menyelesaikan, yang terjadi justru menciptakan kemiskinan. Akibat kemiskinan, timbul gelandangan dan pengemis yang mendiami suatu wilayah tertentu terutama dikota-kota besar seperti Jakarta. Pengemis menjadi problem sosial yang tak kalah akut akibat merajalelanya kemiskinan. Setiap tahun selalu ada pengikatan pengemis, terlebih ketika datangnya bulan Ramadhan. Hal ini terjadi karena kemiskinan yang menjadi penyebab utama munculnya pengemis yang belum berhasil dituntaskan hingga akar-akarnya.

B. Pengertian Pengemis Perspektif Al-Qur’an
            Dalam Al-Quran, 5 kali dalam pengertian meminta atau mengemis dan 3 kali dalam pengertian bertanya.[2] Pengemis menurut terminologi ilmu sosial adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta. Sama seperti gelandangan, pengemis berakar dari kemiskinan juga. Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fenomena pengemisan adalah surah Adh-Dhuha(93): 9-11
$¨Br'sù zOŠÏKuŠø9$# Ÿxsù öygø)s? ÇÒÈ   $¨Br&ur Ÿ@ͬ!$¡¡9$# Ÿxsù öpk÷]s? ÇÊÉÈ   $¨Br&ur ÏpyJ÷èÏZÎ/ y7În/u ô^ÏdyÛsù ÇÊÊÈ  
 “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan (bersyukur).”
Dalam ayat ini, larangan untuk menghardik orang yang meminta-minta sama seperti larangan membentak orangtua. Jadi hanya kedua orang inilah kita dilarang membentak, mencampakkan, mengeraskan dan membuang seperti didalam surah al Isra (17) : 23 Allah berfirman:
* 4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ  
 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Lihat Kembali seperti di Surah adh- Dhuha ayat 10, larangan untuk menghardik para pengemis:
$¨Br&ur Ÿ@ͬ!$¡¡9$# Ÿxsù öpk÷]s? ÇÊÉÈ  
 “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
Maksud menghardik disini adalah larangan untuk membentak dan mengeraskan nada bicara kepada orang yang meminta-minta. Perlakukan mereka dengan memberikan sedikit uang dan menolaknya dengan bahasa yang santun.[3] Dengan demikian, peringatan Al-Quran pada ayat diatas adalah larangan untuk orang beriman menghardik para pengemis karena mempertimbangkan dua hal. Pertama, para pengemis sedang meminta haknya dari orang kaya yang dibenarkan oleh Al-Qur’an. Kedua, menghardik para pengemis dengan menyakiti perasaan mereka yang seharusnya dibantu karena hidup mereka sungguh berat sehingga mudah tersinggung perasaannya.
            Menurut Al-Qur’an, pada harta orang kaya itu terdapat hak orang miskin. Tetapi nyatanya ada orang miskin yang meminta haknya dan ada pula orang miskin yang tidak meminta haknya. Az Zuhri lebih bersimpati kepada orang miskin yang tidak meminta apapun kepada orang lain (al-Mahrum) karena menjaga kehormatan dirinya (ta’affuf) dibandingkan dengan orang miskin yang meminta-minta. Keterangan diatas diperkuat dengan QS. Adz-Dzariyyat(51): 19 :
þÎûur öNÎgÏ9ºuqøBr& A,ym È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãóspRùQ$#ur ÇÊÒÈ  
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Maksud dari orang miskin yang tidak mendapat bagian ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.

C. Pemberdayaan Pengemis Perspektif Al-Qur’an
Pengemis merupakan masalah sosial yang sangat kompleks. Jadi, dalam menghadapi masalah sosial yaitu kemiskinan, Al-Qur’an menawarkan beberapa prinsip dalam pemberdayaan gelandang dan pengemis[4]:
1.     Prinsip ta’awun, yakni prinsip kerja sama dan saling tolong-menolong diantara lembaga kemasyarakatan, seperti Depsos, Dinas Sosial, LSM, para relawan dan lain-lain. Bentuk ta’awun meliputi kelembagaan, manajemen, finansial, sumber daya manusia, program, metodologi dan kebijakan. Prinsip ta’awun ini merupakan perintah Allah kepada orang-orang beriman sebagaimana yang ada di QS. Al-Ma’idah(5):2
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#q=ÏtéB uŽÈµ¯»yèx© «!$# Ÿwur tök¤9$# tP#tptø:$# Ÿwur yôolù;$# Ÿwur yÍ´¯»n=s)ø9$# Iwur tûüÏiB!#uä |MøŠt7ø9$# tP#tptø:$# tbqäótGö6tƒ WxôÒsù `ÏiB öNÍkÍh5§ $ZRºuqôÊÍur 4 #sŒÎ)ur ÷Läêù=n=ym (#rߊ$sÜô¹$$sù 4 Ÿwur öNä3¨ZtB̍øgs ãb$t«oYx© BQöqs% br& öNà2r|¹ Ç`tã ÏÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# br& (#rßtG÷ès? ¢ (#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ  
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”
2.      Prinsip syura’, yakni prinsip musyawarah diantara pemerintah dan pihak-pihak lembaga kemasyarakatan seperti Depsos, LSM dan lain-lain dalam satu program kepedulian terhadap masalah gelandangan dan pengemis dengan mengidentifikasikan masalah-masalah sosial terlebih dahulu yang menyebabkan munculnya fenomena gelandangan dan pengemis serta merumuskan langkah-langkah penanggulangannya. Prinsip ini diperkuat oleh QS. Asy-Syura(42): 38
tûïÏ%©!$#ur (#qç/$yftGó$# öNÍkÍh5tÏ9 (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# öNèdãøBr&ur 3uqä© öNæhuZ÷t/ $£JÏBur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZムÇÌÑÈ  
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”
3.      Pemberdayaan pengemis dilakukan dengan berpegang teguh kepada prinsip bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengubah diri mereka dengan penguatan kekayaan mentalitas yakni keimanan dan ketakwaan serta penguatan keterampilan bertahan hidup yang terpendam. Ini adalah tugas pengembangan masyarakat sebagai pendamping untuk menolong mereka agar keluar dari keterpurukan hidupnya.
4.      Pemberdayaan pengemis didasarkan atas prinsip kasih sayang. Bisa diwujudkan dalam bentuk pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah untuk kepentingan pemberdayaan kaum gelandangan dan pengemis serta untuk mantan gelandangan dan pengemis agar bisa hidup mandiri dan tidak kembali menggelandang dan mengemis, dapat ditampung di dalam forum komunitas mantan pengemis dengan memberi program pelatihan keterampilan, peningkatan kualitas keterampilan, memasarkan produk keterampilan, menghubungkan dengan jaringan permodalan pasar yang lebih luas dan mengembangkan budaya belajar untuk hidup menanbung. Ini untuk memenuhi pesan Al-Qur’an surah al-Ma’idah(5):2
5.      Setelah melewati tahapan penyadaran, dilanjuti dengan pemberdayaan kaum dhuafa secara umum dan pemberdayaan pengemis dengan berpegang teguh kepada prinsip mantan pengemis yang telah berhasil keluar dari kehidupan buruknya karena seseorang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri untuk lebih berdaya bukan orang lain.
6.      Kaum Muslimin yang memiliki asset kekayaan dan tergolong orang yang mampu, perlu senantiasa menyadari dengan penuh keinsyafan bahwa didalam harta mereka ada hak kaum dhuafa. Membantu orang orang yang lemah (dhuafa) melalui zakat, infak, sedekah dan sebisa mungkin menghindari pemberdayaan dhuafa dengan mengandalkan bantuan dana asing, karena bantuan dari asing akan menjadikan diri kita tergantung kepada bantuan mereka. Seperti  sabda Rasulullah:
“ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas, dililit utang, dan dikuasai seseorang”

D. Solusi Terhadap Permasalahan Kemiskinan Perspektif Al-Qur’an
            Sangat memprihatinkan sekali, ketika negara lain sedikit demi sedikit keluar dari permasalahan kemiskinan, mencari jalan keluar yang efektif sedangkan Indonesia hanya mempertontonkan kemiskinan itu tanpa memperdulikan tontonannya itu. Dawam Raharjo (2007:52) menyebutkan bahwa bangsa Indonesia merupakan umat Islam terbesar kedua di dunia. Namun demikian,tidak beriringan dengan peringkat kualitas SDM dan ekonominya. Justru umat Islam berada dibarisan paling belakang, tertinggal telak oleh penganut ajaran agama Hindu dan Budha di dunia.[5] Al-Qur’an memandang kemiskinan sebagai masalah sosial dan sekaligus masalah kemanusiaan yang patut mendapatkan perhatian serius melalui program-program terencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang terus berkelanjutan tanpa lelah dan tanpa henti.  Al-Qur’an sebagai kitab yang dapat memberikan solusi terhadap segala permasalahan hidup umat manusia, menawarkan sejumlah strategi dan formula pengentasan kemiskinan yaitu sebagai berikut:

1.      Pemerataan Pendidikan untuk Orang Miskin
Sholat merupakan tiang Agama. Begitupun dengan pendidikan. Pendidikan merupakan tiang kehidupan. Tanpa pendidikan manusia akan bodoh, menjadi pengangguran, gelandangan, pengemis dan menjadi benalu masyarakat. Pendidikan memberikan peran yang sangat sentral bagi kelangsungan hidup seseorang. Tidak mendapatkannya pendidikan, baik formal, informal dan non formal dapat berimbas secara langsung terhadap kemiskinan seseorang. Sehingga menyebabkan orang tersebut tidak memiliki keterampilan hidup dan akibatnya tidak siap untuk berkompetisi secara sehat dan menjadi orang bodoh yang sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional tahun 2008 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 35 juta warga miskin dan 76 persen diantaranya adalah mereka yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, yakni hanya lulusan SD atau SR.[6] Al-Qur’an memandang pendidikan amat penting bagi setiap orang, karena dengan pendidikan harkat dan martabat manusia akan terangkat. Seperti firman Allah, QS.Al-Mujadalah(58): 11
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
 “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat lain tentang pendidikan adalah QS. an-Nahl(16): 97 yang menyatakan bahwa bagi manusia yang ingin bahagia dalam hidupnya maka pendidikan merupakan amal shaleh yang menjadi kewajiban setiap orang.
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ  
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Dari ayat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya pendidikan amat penting menurut Al-Qur’an. Seperti salah satu sabda Nabi Saw berikut ini:

“Barang siapa yang ingin memperoleh kebaikan di dunia, maka tuntutlah ilmu. Dan barangsiapa yang ingin mendapatkan kebaikan di akhirat, maka tuntutlah ilmu dan barangsiapa yang ingin memperoleh kebaikan pada keduanya, maka tuntutlah ilmu”. (HR. Muslim)
      Dengan demikian, kemiskinan yang masih membelenggu sebagian besar rakyat Indonesia ini, salah satu cara terbaiknya dengan memberikan kesempatan memperoleh pendidikan kepada seluruh warga negaranya. Jadi, sudah seharusnya kita semua terutama pemerintah memikirkan strategi agar pendidikan bisa dinikmati oleh semua kalangan, terutama rakyat miskin baik secara geografis maupun biaya. Semangat pemerataan pendidikan sesungguhnya bisa kita temukan dalam konsep ajaran Islam yang berbunyi:
“Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin”.
“Menurut ilmu (pendidikan) adalah kebajiban bagi orang Islam baik laki-laki maupun perempuan”.

2.      Membangun Etos Kerja yang Tinggi
Kemiskinan terjadi karena perilaku dan mentalitas yang tidak disiplin, orientasi ke depan rendah, dan etos kerja yang lemah. Etos kerja adalah modal dasar yang sangat dominan bagi peningkatan kualitas hidup seseorang dalam berbagai aspeknya.[7] Mahkota umat Islam adalah jihad. Bukan jihad yang diartikan sebagai peperangan melainkan jihad yang dimaksud disini adalah sikap bersungguh-sungguh untuk mengerahkan seluruh potensi diri untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita. Inilah arti Jihad yang sesungguhnya, sebagimana firman Allah di dalam QS. Al’ankabuut(29): 6
`tBur yyg»y_ $yJ¯RÎ*sù ßÎg»pgä ÿ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 4 ¨bÎ) ©!$# ;ÓÍ_tós9 Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÏÈ  
 “Dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Ayat lain yang membahas berjihad itu anjuran Allah adalah QS. Al’Ankabuut(29): ayat 69
z`ƒÏ%©!$#ur (#rßyg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏöks]s9 $uZn=ç7ß 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ  
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãèŸ2ö$# (#rßàfó$#ur (#rßç6ôã$#ur öNä3­/u (#qè=yèøù$#ur uŽöyø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ) ÇÐÐÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(QS. Al-Haji(22): 77
Jihad berati suatu “kegilaan” untuk mengerahkan seluruh daya dan ikhtiar, suatu mesin batin yang terus bergemuruh dan meronta, seraya menggerakkan pori-pori, urat syaraf dan kemudian melahirkan daya gerak yang menabjukkan.[8] Maka makna jihad dalam kaitannya dengan bekerja, berihktiar atau mewujudkan suatu cita-cita adalah menjadi satu kekuatan yang secara padu harus terus menyala serta digali dan di uji potensinya sehingga mampu mengeluarkan energi yang membangun.  Apa arti sebuah cita-cita tanpa adanya keinginan serta daya juang yang tinggi, itu hanyalah impian belaka, obsesi kosong yang kemudian hanya membuahkan sebuah khayalan semata. Islam mengajarkan agar hidup selalu mempunyai arah dan tujuan dan ditanamkan secara nyata bahwa keinginan itu wajib diwujudkan dengan dorongan jihad. Kita boleh bermimpi, tetapi lebih dari itu jadikanlah mimpi menjadi kenyataan dengan mengerahkan seluruh potensi diri untuk mewujudkannya. Karena Allah tidak akan pernah mengubah nasib diri kita kecuali diri kita sendiri yang secara aktif ingin dan mempunyai tujuan untuk mengubah nasib kita sendiri. Seperti ditekankan dalam firman Allah di QS. Ra’d(13):11
¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#ur& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ  
 “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Allah).”
Qur’an diatas di Nash kan oleh sabda Rasulullah:
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”
Dari ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah diatas, memperlihatkan bahwa sesungguhnya pandangan Islam tidaklah sempit. Islam tidak mengajarkan tentang keterbatasan. Maksudnya hanya mementingkan soal akhirat saja atau dunia semata tapi lebih dari itu Islam menganjurkan bahwa kehidupan dunia harus seimbang, tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah tanaman hidup untuk perjalanan abadi ke akhirat. Jadi, salah satu solusi terbaik keluar dari kemiskinan adalah dengan meningkatkan etos kerja dalam kehidupan umat Islam dengan berjihad, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Jumu’ah(62): 10
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ  
 “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy ÇÌÒÈ   ¨br&ur ¼çmuŠ÷èy t$ôqy 3tãƒ ÇÍÉÈ  
 “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).”QS. An-Najm(53):39-40
#sŒÎ*sù |Møîtsù ó=|ÁR$$sù ÇÐÈ   4n<Î)ur y7În/u =xîö$$sù ÇÑÈ  
 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain ,dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” QS. Alam Nasyrah(94):7-8

3.      Pemberdayaan Harta Zakat untuk Kesejahteraan Umat
Kemiskinan menjadi persoalan amat serius yang segera harus dituntaskan agar tidak membahayakan akidah dan moral anggota masyarakat Islam. Pedoman dalam pemberantasan kemiskinan adalah Al-Quran, karena ia adalah kitab anti kemiskinan.[9] Al-Qur’an selalu membela kaum miskin dan peduli pada kaum dhuafa. Al-Qur’an memandang bahwa pengentasan kemiskinan, salah satunya dilakukan dengan sikap kederamawanan kaum kaya. Al-Qur’an melarang manusia yang mementingkan diri sendiri dan mempunyai sifat ketamakan. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa menolong anak yatim dan fakir miskin dianggap jauh lebih mulia dihadapan Allah daripada melaksanakan seremoni-seremoni luar, termasuk yang tampak seolah-olah sedang melaksanakan ajaran Islam. Contohnya seperti, Al-Qur’an menganggap lebih mulia orang yang tidak jadi melaksanankan ibadah haji padahal berbagai halnya telah mencukupi, disebabkan karena ongkos naik haji diberikan untuk membantu orang yang kelaparan.[10] Al-Qur’an mengingatkan bahwa dalam harta orang kaya ada hak fakir dan miskin seperti firman Allah  dalam QS. Az-Zariyat(51): 19
þÎûur öNÎgÏ9ºuqøBr& A,ym È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãóspRùQ$#ur ÇÊÒÈ  
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Ayat lain yang mewajibkann membantu sesama muslim yang belum hidup wajar sebagai manusia adalah:
¼çm¯RÎ) tb%x. Ÿw ß`ÏB÷sム«!$$Î/ ÉOŠÏàyèø9$# ÇÌÌÈ   Ÿwur Ùçts 4n?tã ÇP$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÍÈ  
 “Sesungguhnya Dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar. dan juga Dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi Makan orang miskin.”QS. Al-Haaqqah(69): 33-34
|M÷ƒuäur& Ï%©!$# Ü>Éjs3ムÉúïÏe$!$$Î/ ÇÊÈ   šÏ9ºxsù Ï%©!$# íßtƒ zOŠÏKuŠø9$# ÇËÈ  
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” QS. Al-Ma’un(107): 1-2
(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qãèx.ö$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ  
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku” QS. Al-Baqarah(2): 43
Berdasarkan ayat Al-Qur’an diatas menyatakan bahwa Allah sangat menganjurkan sesama manusia muslim untuk saling membantu, meringankan beban saudara kita dari jerat kemiskinan terutama membantu anak yatim dan fakir miskin. Salah satu cara menanggulanginya dengan mengeluarkan zakat. Mengeluarkan zakat dalam ajaran Islam termasuk salah satu kewajiban yang harus dilakukan sebagai pembersih diri dan kekayaan agar menciptakan kesejahteraan, menanggulangi kemiskinan, dan menumbuhkan kemakmuran pada masyarakat Muslim, seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam QS. At-taubah(9): 103 yang berbunyi:
õè{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgøn=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; 3 ª!$#ur ììÏJy íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ  
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Surah diatas menyatakan bahwa zakat merukapan salah satu hal tepenting dalam upaya pengentasan kemiskinan dalam masyarakat. Sebab melalui zakat, dapat terkumpul dana yang sangat besar terlebih mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Selanjutnya hanya tinggal sejauh mana tingkat kedisiplinan pengelolaan dan pemberdayaan penggunaannya agar sampai kepada kelompok-kelompok orang yang berhak menerimanya. Pengeluaran zakat ini amat besar jika dihitung-hitung dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Islam. Belum lagi ditambah dengan pengeluaran zakat fitrah yang memang kewajiban setiap muslim. Jadi dalam konteks ini, bukan hanya kerja keras yang diperlukan untuk pengelolaan zakat namun juga kerja cerdas agar pengelolaan zakat dan pemanfaatannya dapat menanggulangi kemiskinan.




E. Kesimpulan
            Kemiskinan adalah sumber kebodohan dan keterbelakangan yang dapat mengurangi makna manusia sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna dari ciptaan yang lainNya. Jika kemiskinan dibiarkan, manusia akan merasa tidak bermartabat dan merasa rendah diri. Bahkan jika kemiskinan diacuhkan, bisa menyebabkan akidah dan moral umat Islam akan terganggu. Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan agar berhati-hati dengan kemiskinan seperti pada sabda beliau bahwa :
“hampir saja kefakiran(kemiskinan) itu mendekati pada kekufuran”

F. Saran
            Kita sebagai umat Islam yang mempunyai pedoman hidup dan petunjuk hidup yaitu Al-Qur’an, wajib bagi umat Islam berpegang teguh kepada ajaranNya, mengamalkan ajaran-ajaranNya dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari agar permasalahan yang terjadi seperti kemiskinan, kebodohan dan lain-lain dapat kita selesaikan berdasarkan anjuran Al-Qur’an dan tidak mungkin kita tersesat karenanya. Setelah berpegang teguh kepada ajaranNya, selanjutnya segera mungkin mengaplikasikannya. Berjihad dalam konteks meningkatkan kualitas umat muslim melalui pendidikan agar meningkatkan kualitas keterampilan, memperluas jaringan dan akses hubungan sehingga dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan.

DAFTAR PUSTAKA
·         Ismail, Asep Usman. 2012. Al-Qur’an dan Kesejahteraan Sosial. Tanggerang: Lentera hati
·         Syabini, Amirulloh. 2012. Mutiara Al-Qur’an. Jakarta: as@-prima pustaka
·         Tasmara, Toto. 1995. Etos Kerja Pribadi Muslim. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf














[1] Syabini, Amirulloh. Mutiara Al-Qur’an. (Jakarta: As@-prima pustaka. 2012). hlm. 35
[2] Al-Raghib al-Ashfahani, op.cit., h. 429
[3] Ahmad Musthafa al-Maraghi, cet. Ke-1, Jilid X Tafsir al-Maraghi, (Beirut: Dar al-Fikr, 2001/1421), h. 347
[4]Asep Usman ismail, Al-Quran dan Kesejahteraan Sosial, Lentera Hati, Tanggerang, 2012, hlm. 79.
[5] Amirulloh Syarbini, Mutiara Al-Qur’an, (Jakarta: as@-prima pustaka, 2012), hlm.49
[6]Ibid,hlm. 51
[7]Ibid, hlm. 55
[8] Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), hlm.16
[9] Amirulloh Syarbini, Mutiara Al-Qur’an, (Jakarta: as@-prima pustaka, 2012) hlm.59
[10]Ibid, hlm. 59