Sabtu, 07 Desember 2013

Catper Gunung Slamet 3.428mdpl

Gunung Slamet 3.428 Mdpl
LSO KMLA Garuda Fidkom
Oleh:
Arianne Sarah
Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah. Maka, dengan menyandang gelar gunung tertinggi di Jawa Tengah, tentunya gunung Slamet ini memiliki jarak tempuh perjalanan yang cukup panjang sekitar 8-9 jam waktu normal, karakter medan yang dilalui sulit dan kering namun terbayar dengan pemandangan yang indah menjadikan gunung Slamet ini menjadi istimewa dan banyak dikunjungi para pendaki.
Untuk mencapai puncak tertinggi Gunung Slamet, seorang pendaki harus melewati 9 pos terlebih dahulu. Dari 9 pos tersebut, hanya ada 3 shelter, 1 tempat mata air dan 1 tempat yang dianggap angker atau biasa disebut pasar setan. 3 sehelter itu hanya ada di pos 1, pos 5 dan pos 7. Sedangkan tempat mata air hanya ada di pos 5 saja dan pasar setan berada di pos 4. Biasanya, para pendaki memutuskan untuk bermalam sebelum melanjutkan summit attack ke esokan harinya di pos 5 dan di pos 7. Ini dikarenakan, hanya kedua pos itu lah yang mendekati puncak yang terdapat shelter untuk bermalam agar ketika melanjutkan perjalanan ke puncak tidak perlu membawa semua peralatan. Ini berlaku juga dengan pendakian kami dari divisi gunung hutan. Kami memutuskan untuk bermalam di pos 5 dan melanjutkan pendakian ke puncak keesokan harinya.
Untuk sampai ke puncak Gunung Slamet, pendaki seakan-akan harus menapaki gunungan bebatuan. Ini dikarenakan medan  puncak Gunung Slamet adalah bebatuan, sehingga diperlukan kehati-hati dalam memilih pijakan. Medan yang dilalui bebatuan yang rapuh disertai angin yang cukup kencang. Waktu normal untuk mencampai puncak Gunung Slamet, kurang lebih selama 2 jam dan dihimbau untuk segera turun sebelum jam 9. Karena, jika lebih dari jam 9, pergerakan angin dan kabut semakin kuat menyebabkan jarak pandang pendaki dapat terganggu. Secara keseluruhan, medan perjalanan gunung Slamet ini adalah vertical, vegetasi pepohonan rapat, memiliki tekstur tanah gambut dan jalur pendakian jelas (tidak bercabang-cabang). Hanya saja, ketersediaan air dalam pendakian ini hanya ada di basecamp Bambangan dan dipos 5 saja.
1.       Lokasi
Gunung Slamet ini adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa yang berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah serta gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Pendakian ini dilakukan melalui jalur Bambangan yaitu jalur pendakian resmi di Gunung Slamet yang terletak di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.
2.       Tempat dan Waktu Kegiatan
Tempat                 : Gunung Slamet
Ketinggian           : 3.428 mdpl
Lokasi                    : Banyumas dan Pemalang, Jawa Tengah.
Hari/Tanggal       :Senin- Kamis,1- 4 Juli 2013

Catatan Perjalanan Gunung Slamet 3.428 (mdpl)

Dan pada akhirnyaa, perjalananku berlabu di tanah tertinggi Jawa Tengah, Gunung Slamet dengan ketinggian gunung 3.428 mdpl. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pendakian segera dipersiapkan. Carrier, sepatu trekking, tenda, matras, ponco (raincoat), jaket, SB ( Sleeping Bag), nesting beserta kompornya, logistik, pakaian ganti dan lain sebaginya disusun kedalam carrier. Sebagai info bahwa penyusunan (packing) berawal dari barang yang paling ringan dan paling akhir digunakan seperti SB dan pakaian ganti. Sedangkan untuk barang yang berat dan penting diposisikan ditempat yang paling atas seperti ponco (raincoat). Tujuannya agar beban terberat jatuh ke pundak bukan ke pinggul serta tidak perlu membongkar carrier ditengah perjalanan apabila barang yang penting berada di atas. Pendakianku ini dijalankan bersama 2 teman sedivisi Gunung Hutan dari Komunitas Mahasiswa Lintas Alam (KMLA) GARUDA UIN Syahid yaitu Tarzan dan Layu, serta bang Budi dan bang Mirob sebagai pendamping. Total kami ber 5 akan melakukan pendakian Gunung Slamet via Bambangan pada tanggal 1-4 Juli 2013.
Senin - Selasa, 1-2 Juli 2013
Setibanya di basecamp Garuda, aku melakukan pengecekan ulang barang dan logistik. Sekitar jam 15.30 kami telah siap untuk berangkat. Sebelumnya dilakukan pelepasan terlebih dahulu oleh pengurus di depan basecamp Garuda. Di antar menggunakan motor hingga Gapura kampus 2 dan di lanjuti dengan menaiki angkot DO1 tujuan Lebak Bulus. Setibanya di Terminal Lebak Bulus Tarzan langsung membeli tiket bus tujuan Bobotsari. Sayangnya tiket tersebut telah habis, akhirnya beralir tujuan ke Purwokerto. Sekitar jam 21.00 bus Kurnia Jaya tujuan kami siap berangkat. Perjalanan di tempuh selama 11 jam hingga turun di Sokaraja, Purwokerto.  Dilanjuti naik bus L300 selama 1 jam hingga turun di pertigaan Serayu. Dari pertigaan Serayu naik mobil Carry hingga Basecamp Bambangan selama 40 menit. Jam 10.00 siang Akhirnya kami tiba  di basecamp Bambangan. Diawali dengan Istirahat untuk makan, mengurus administrasi pendakian dengan biaya pendaftaran sebesar Rp. 5.000 dan setelahnya melakukan packing ulang. Sekitar jam 11.00 pendakian di mulai.
                Siang itu pendakian kami disuguhkan dengan pemandangan luasnya perkebunan warga setempat. Untuk mencapai pos 1, kami menempuh perjalanan selama 2 jam lebih. Ini dikarenakan, waktu untukku beradaptasi dengan medan sangat sulit sehingga perjalanan lebih banyak istirahatnya. Lagipula dari sekian banyaknya pos, perjalanan menuju pos 1 inilah perjalanan yang paling panjang dan sudah vertical. Di pos 1 ini ada shelter sehingga kami beristirahat sebentar dan segera melanjutkan perjalanan ke pos 2. Perjalanan menuju pos 2 tidak seberat perjalanan menuju pos 1. Mungkin karena sudah bisa beradaptasi dengan medan. Ditengah perjalanan, kami harus memakai ponco sebab tiba-tiba hujan turun. Itulah sebabnya kenapa ponco harus diletakkan dibagian paling atas carrier. Karena hujan bisa dengan tiba-tiba turun tanpa iduga sebelumnya. Lanjut, Kami menempuh perjalanan untuk mencapai pos 2 selama 2 jam. Di pos 2 ini tidak ada shelter seperti di pos 1. Hanya tanah lapang ditengah hutan. Istirahat lagi dan segera melanjuti perjalanan menuju pos 3 karna kami menargetkan untuk nge-camp di pos 5 atau di pos 7. Perjalanan ke pos 3 ditempuh selama 1,5 jam. Di sepanjang perjalanan menuju pos 3, terlihat akar-akar pepohonan menjulur keluar dari tanah, tekstur tanah gambut serta rindangnya pepohonan membuat udara menjadi sejuk. Sama seperti di pos 2, di pos 3 tidak ada shelter. Shelter hanya ada di pos 1, pos 5 dan pos 7. Hari semakin sore, namun belum tercium bau-bau pos 4 bahkan pos 5. Perjalanan ke pos 4 kami tempuh selama 2 jam perjalanan, cukup lama karena dari awalpun perjalanan sudah vertical sehingga ketika adzan magrib berkumandang kami baru sampai di pos 4 Samarantu. Dengar-dengar dipos 4 ini angker, makanya di kasih nama Samarantu. Arti dari Samarantu itu “samar-samar hantu” karena katanya sih sering ada penampakan. Tapi yang jelas di pos ini kami sempat istirahat cukup lama untuk membuat kopi, menghangatkan tubuh karena semakin lama udara semakin dingin. Perjalanan berlanjut. Kini, headlamp dan senter menerangi perjalanan kami. Udara kala itu begitu dingin, tapi tidak menghambat perjalanan kami untuk menemukan pos 5 pos mata air. 1,5 jam perjalanan cukup buat kami menemukan pos 5. Kami kehabisan tempat di dalam shelter sehingga harus mendirikan tenda di halaman pos 5. Sesampainya, kami langsung mendirikan tenda dan membuat makanan. Menu makanan saat itu temanya gado-gado. Logistik yang kami bawa disatupadukan. Anehnya tetap terasa nikmat haha Setelahnya kami pun bergegas masuk tenda lalu tidur untuk melakukan summit attack esok.
Rabu, 3 Juli 2013
                Sekitar jam 02.30 pagi Gelap masih mendominasi, dingin menyelimuti. Target kami untuk berangkat sekitar jam 03.00 pagi. Mempersiapkan segala kebutuhan yang mendukung untuk dibawa naik dan meninggalkan kebutuhan lainnya di pos 5. Perjalanan ke pos 6 dan pos 7 di tempuh sekitar 15 menit. Di pos 7, kami beristirahat sebentar di dalam shelter. Menyapa pendaki lain yang juga akan melakukan summit attact sama seperti kami. Semakin keatas model perjalanan semakin vertical dan vegetasi tumbuhan semakin jarang. Di pos 8 sudah tampak bunga abadi bunga edelweiss, namun sayangnya bunga itu belum mekar secara sempurna. Semakin keatas menuju pos 9, medan perjalanan mulai bebatuan. Hati-hati memilih pijakan ya, sebab bebatuan ini mudah lengser. Kabut yang membawa embun mulai terasa membasahi tubuh kami. Menuju puncak, medan perjalanan seperti gunungan bebatuan. Kami menapaki gunungan bebatuan itu dengan ekstra hati-hati memilih pijakan. Angin kala itu sangat kencang, membuat udara begitu dingin. Perjalanan menuju puncak ini, kami tempuh selama 1 jam. Setibanya di puncak, proses dokumentasi berjalan. Kami berlima berada diatas awan. Dari kejauhan terlihat gunung Kembar yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Oh Indah nian. Namun sayang, keindahan itu berubah menjadi berkabut menjadikan keindahan puncak gunung Slamet tak sempurna untuk kami pandang. Tapi tak apa, sekiranya kami telah melihat keindahan Jawa Tengah melalui Gunung Slamet. Sebelum jam 9 kami sudah turun, takut cuaca semakin parah. Proses turun ini harus lebih hati-hati lagi karena, tumpuan kita hanya kepada kaki berbeda ketika naik. Ketika naik tumpuan kita kaki dan tangan sehingga lebih kuat. Salah memilih pijakan, bebatuan itu bisa lengser. Perjalanan turun ke pos 5 ditempuh selama 2 jam. Setibanya di pos 5 langsung mempacking barang untuk segera turun. Perjalanan turun memakan waktu lama sekali. Ini dikarenakan ada permasalahan sehingga ketika sore hari baru sampai di basecamp Bambangan. Kami memutuskan untuk menginap malam itu dan pulang keesokan harinya.
Kamis, 4 Juli 2013
                Pagi hari kami telah bangun. Target kami, jam 08.00 kami sudah siap untuk pulang. Sarapan dan packing menjadi kegiatan kami kala itu. Kami pulang naik mobil Carry bapak Sugeng, pemilik rumah basecamp Bambangan menuju terminal Porwokerto. Jam 10.30 tiba dan segera mencari tiket. Kami telat, karena tujuan Lebak Bulus baru saja berangkat. Akhirnya beralih naik bus Putri Jaya jurusan Pulo Gadung. Perjalanan menjadi sangat lama karena ada perbaikan jalan sehingga menimbulkan macet. Akibatnya sampai di terminal Pulo Gadung tengah malam dan langsung mencari angkot untuk disewa hingga basecamp Garuda. Alhamdulillah misi 3P kami berhasil yaitu Perjalanan, Puncak pulang dilalui dengan selamat seperti Gunung yang baru saja kami singgahi.


Senin, 04 November 2013

Laporan Observasi: Pendidikan Pengamen

LAPORAN OBSERVASI:
Pengaruh Profesi Anak Jalanan Sebagai Pengamen Terhadap Kondisi Pendidikannya di Wilayah Pondok Ranji
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Perkotaan

DISUSUN OLEH:
ARIANNE SARAH
(1112054000014)

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013




A.    Pendahuluan
Semenjak situasi krisis ekonomi merebak dan melanda negara Indonesia, salah satu permasalahan sosial yang perlu mendapat perhatian khusus adalah masalah meningkatnya jumlah anak jalanan. Menurut Menteri Sosial Republik Indonesia jumlah anak jalanan telah mencapai 50.000 anak dan akan terus bertambah seiring meningkatnya arus urbanisasi diberbagai kota besar di Indonesia. Kehadiran anak jalanan sering di identifikasikan sebagai cermin kemiskinan kota atau suatu kegagalan adaptasi kelompok orang-orang tertentu terhadap kehidupan kota-kota besar.
Anak jalanan ini perlu mendapat perhatian serius, karena selain rawan terhadap perlakuan buruk dari pihak-pihak yang kurang bertanggung-jawab misalnya preman dan oknum-oknum yang ingin memanfaatkan keberadaan anak jalanan. Yang memprihatinkan lagi adalah ancaman terhadap kelangsungan pendidikan anak-anak jalanan dalam menghadapi masa depannya.  Dalam penelitian yang dilakukan, anak jalanan yang masih kecil biasanya dipalak oleh anak jalan yang lebih besar. Bahkan para preman juga tidak segan meminta uang hasil jerih payah mereka. Intimidasi seperti ini sering dialami anak jalanan.
Anak adalah generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang memiliki peran strategis dan ciri serta sifat-sifat khusus yang menjamin kelangsungan kehidupan bangsa dan negara pada masa depan. Oleh karena itu potensi anak perlu dikembangkan semaksimal mungkin serta mereka perlu dilindungi dari berbagai tindak kekerasan dan diskriminasi agar hak-hak anak dapat terjamin dan terpenuhi sehingga mereka dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan kemampuannya, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. Tempat bekerja anak jalanan biasanya dijalan-jalan yang dianggap strategis dan lokasi dekat dengan rumah tetapi terkadang adanya juga anak jalanan yang melakukan perkerjaan jauh dari rumah mereka karena tempat-tempat strategis didekat rumah mereka telah diisi oleh anak-anak jalanan yang lain.
Pada anak jalan yang masih terikat dengan keluarga bisanya mereka masih sekolah, dan berkerja setelah sekolah atau waktu hari libur. Anak anak jalanan yang demikian dapat kita katakan mereka bekerja karena tekanan ekonomi keluarganya. Dengan bekerja sebagai anak jalanan mereka mampu membantu ekonomi keluarga walaupun hanya sedikit, tidak sedikit hasil jerih payah mereka digunakan untuk biaya keperluan sekolah. Anak jalanan yang masih terikat oleh keluarga biasanya memiliki jadwal yang lebih teratur, apabila pendapat yang mereka peroleh dianggap sudah cukup mereka akan pulang. Pendapatan yang mereka peroleh setiap harinya tidak sama, ada hari yang dianggap ramai ada pula hari yang dianggap sepi. Begitu pula setiap harinya ada jam yang dianggap ramai adapula jam yang dianggap sepi. Atas dasar itulah pendapatan anak jalanan menjadi tidak tentu.
Dengan semakin meningkatnya jumlah anak jalanan memberikan indikasi bahwa pekerjaan anak jalan ini cukup bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Disini penulis lebih memfokuskan penelitian terhadap anak jalanan yang menjadi pengamen, meskipun jenis pekerjaan anak jalanan bermacam-macam mulai dari penjual koran, penjual asongan, pengemis, dan lain sebagainya. Disamping bekerja ditempat yang relatif dekat dengan tempat tinggal mereka juga menempati tempat tempat yang strategis misalnyatrafict light stasiun, alun-alun, pusat-pusat perbelanjaan maupun fasilitas-fasilatas umum yang ramai.

Bagi penulis, permasalahan anak jalanan yang menjadi pengamen ini sangat penting untuk dilakukan penelitian dengan berbagai pertimbangan dan alasan, antara lain:
1.      Semakin meningkat jumlah anak jalan di era global saat ini
2.    Beratnya tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup keluarga miskin dikota mendorong meningkatnya jumlah anak jalanan (Pengamen).
3.   Keinginan untuk hidup tanpa aturan begitu menggelora
Berbagai penelitian sebelumnya telah mengungkap berbagai pemasalah yang dihadapi oleh anak jalan. Maka dengan ini penulis berusaha mengungkap seberapa besar pengaruh pekerjaan anak jalanan khususnya pengamen terhadap kondisi Pendidikannya.

B.     Metodologi Penelitian
1.      Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian Kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini menitikberatkan pada penggunaan teknik berupa wawancara yang dilakukan peneliti dengan pihak yang bersangkutan. Metode Kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, Metode Kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dan responden.
2.      Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah Pendidikan anak jalanan khususnya pengamen. Sedangkan objek penelitiannya adalah Anak Jalanan khususnya pengamen itu sendiri.
3.      Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Stasiun Kereta Api Pondok Ranji. Sedangkan waktu penelitian dilakukan mulai dari tanggal 19 Oktober – 22 Oktober 2013.
4.      Tahapan Penelitian
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi dan Wawancara.
5.      Tinjauan Teoritis (Teori Konflik)
Konflik merupakan bagian dari interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Timbulnya konflik terjadi akibat adanya suatu keadaan yang bertentangan (perbedaan). Perbedaan yang dimaksud disini adalah perbedaan kepentingan. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.[1]
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Teori konflik adalah sebuah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula.[2]
Teori konflik yang terkenal adalah teori yang disampaikan oleh Karl Mark, bagi Mark konflik adalah sesuatu yang perlu karena merupakan sebab terciptanya perubahan. Teori konflik Mark yang terkenal adalah teori konflik kelas dimana dalam masyarakat terdapat dua kelas yaitu kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin (proletar). Kaum borjuis selalu mengeksploitasi kaum proleter dalam proses produksi. Eksploitasi yang dilakukan kaum borjuis terhadap kaum proletar secara terus menerus pada ahirnya akan membangkitkan kesadaran kaum proletar untuk bangkit melawan sehingga terjadilah perubahan sosial besar, yaitu revolusi sosial.[3]
Dari berbagai pengertian konflik diatas penulis mencoba menarik kesimpulan bahwa kasus pengamen disini adalah akibat pertentangan, perbedaan dan lain sebagainya akan kehidupan sosialnya. Dari wawancara yang penulis lakukan, mereka lebih memilih hidup di jalanan, memutuskan untuk keluar dari rumah, kaluar dari kehidupan yang sesungguhnya, tanpa aturan, tanpa tanggung jawab, demi kepentingan diri sendiri dengan berusaha menyingkir dari pihak-pihak yang tidak sepaham dengannya. Jika di analogikan dengan teori Mark, kelompok pengamen ini adalah kaum proletar (kelas pekerja miskin) yang berusaha melawan, membuat perubahan yang diinginkannya.
C.    Hasil Temuan Lapangan
Hasil penelitian yang penulis lakuakan, kehidupan pengamen jalanan terhadap pendidikan sangat memprihatinkan. Padahal anak-anak inilah harapan masa depan suatu bangsa, tunas yang berpotensi membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik atau bisa juga lebih buruk. Dari proses wawancara terhadap 4 orang pengamen jalanan di Pondok Ranji mengatakan bahwa keseluruhan dari pengamen tersebut menyatakan putus sekolah, mulai dari kelas 1 SD, 4 SD sampai 3 SMP. Alasannya pun saling kait mengkaitkan. Mulai dari dikeluarkan dari sekolah akibat berkelahi, untuk pindah sekolah tidak adanya biaya, akibatnya malas, sehingga mengurungkan kembali niatnya bersekolah. Dan pada akhirnya, mereka mengisi waktu luang, menjalani kehidupan dengan menjadi pengamen. Keadaan ini cukup memprihatinkan, karena pada kenyataannya pemerintah sudah berusaha membuat berbagai macam program pendidikan salah satunya Program Wajib Belajar Sembilan tahun, tetapi tetap saja kurang berjalan dengan baik karena masih ada anak-anak di usia produktif tidak bisa menikmatinya. Keseluruhan dari ke 4 pengamen ini, masih memiliki tempat tinggal yang tidak jauh dari tempatnya mengamen. Mereka lebih memilih hidup dijalanan, keluar dari rumah, tanpa aturan, tanpa tanggung jawab dengan alasan ingin mandiri dan berkreasi secara bebas. Mereka di dewasakan oleh keadaan. Keadaan yang sulit.
Padahal pendidikan merupakan salah satu faktor utama untuk dapat mencapai kemakmuran suatu Negara. Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945)[4] pasal 31 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) menegaskan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ayat (3) menetapkan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
 Sedangkan ayat (4) menugaskan negara untuk memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapatan daerah (APBD) untuk mememenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Aturan yang termuat dalam Ayat (4) tersebut menunjukkan betapa penting dan betapa prioritasnya bidang pendidikan di bumi nusantara ini. Sebanyak 20 persen atau seperlima anggaran pemerintah pusat dan seperlima anggaran pemerintah daerah harus dialokasikan untuk menyelenggarakan pendidikan.
 Dengan demikian, jelaslah bahwa negara kita menempatkan pendidikan pada prioritas pertama dengan mengalokasikan anggaran terbesar dari semua sektor. Pendidikan merupakan sektor yang memang perlu diprioritaskan negara karena menyentuh langsung hak masyarakat, dan sangat terkait erat dengan pembangunan sumber daya manusia masa depan.
Namun permasalahan lainnya adalah akibat terlalu lama berada di jalanan, hidup lama tanpa aturan sehingga untuk menarik kembali bersekolah agak begitu sulit. Sebab mereka sudah mengenal uang. Uang dijadikan prioritas utama dalam kehidupannya bukan seharusnya pendidikannya. Mereka memiliki paradigma pemikiran yang keliru bahwa ingin belajar setelah mendapatkan uang dengan cara mengamen sehingga sulit untuk merubahnya. Sehingga solusi yang harus diambil harus melibatkan pihak-pihak yang bersangkutan seperti orang tua, Departemen Pendidikan RI, Komnas Anak, dan lain sebagainya. Berikut beberapa solusi yang dapat penulis simpulkan:
1.      Menyadarkan orangtuanya terlebih dahulu akan pentingnya pendidikan Anaknya.
2.      Berhubungan baik antara orangtua dengan anak agar terjalin komunikasi yang baik yang berhubungan dengan urusan pendidikan.
3.      Adanya persuasive (Ajakan) dari pihak Depdiknas ataupun Komnas anak dalam membujuk agar anak-anak di usia produktif menyadari pentingnya pendidikan bagi dirinya.
4.      Perlunya kerjasama denga LSM dengan memperbanyak sekolah-sekolah non formal yang tetap dapat dilakukan di lingkungan pengamen tersebut bekerja.

D.    Kesimpulan
Pengamen adalah penyanyi atau pemain musik yang tidak bertempat tinggal tetap, berpindah-pindah dan mengadakan pertunjukkan di tempat umum. Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan pengamen menjadikan kehidupan sosial beragam. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa mayoritas pengamen jalanan adalah anak-anak di usia produktif. Usia dimana seharusnya mereka berada di sekolah, belajar, berkarya dan bermain. Padahal Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pasal 31 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Penyebab masih adanya masyarakat yang belum terjamak dari program pemerintah menegenai program belajar 9 tahun bisa dilihat dari faktor internal dan eksternal. Berdasarkan faktor internal, mayoritas anak-anak usia produktif ini sudah terbuai akan kehidupan tanpa adanya aturan. Sudah mengenal Uang sebagai prioritas utama sehingga menyulitkan untuk menarik keluar. Sedangkan berdasarkan faktor eksternal adalah kurangnya sosialisasi dari pemerintah akan program yang dibuatnya sehingga menyulitkan orangtua yang tidak mempunyai biaya untuk pendidikan anaknya harus mengadu kepada siapa pihak-pihak yang bersangkutan.


E.     Daftar Pustaka
1.      M. Amin Nurdin, Ahmad Abrori, mengerti sosiologi,Jakarta:UIN Jakarta perss, 2006
2.      Wirawan, konflik Dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan penelitian, Jakarta: Salemba Humanika, 2010.


F.     Identitas Narasumber
No
Nama Asli
Panggilan
Jenis Kelamin
Usia
Aktifitas
Pendidikan Terakhir
1.
Cepi Richo
Cico
Pria
15 Tahun
Pengamen
1 SD
2.
Imam Syarifudin
Imam
Pria
17 Tahun
Pengamen
4 SD
3.
Wahyudiarto
Indi
Pria
17 Tahun
Pengamen
3 SMP
4.
Toni Zulfikar

Toni
Pria
18 Tahun
Pengamen
3 SMP